Monday, January 14, 2013

Masa depan?

Aku memang kurang berminat dalam membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan masa depan.

Kenapa?

Aku memang penakut, terutama takut ditinggalkan. Membicarakan masa depan berarti menyaksikan orang-orang terbang tinggi menyongsong mimpi, termasuk kamu.

Tanpa diberitahu aku sudah tahu kalau kelak kau akan mencakar langit dengan rencana-rencanamu yang tak terduga itu. Lihat saja, bahkan dunia seakan terbuka lebar dihadapanmu. Kau memang ditakdirkan untuk terbang, melangkah maju sementara mungkin aku hanya menatapmu di tempat yang sama, sampai melapuk dan berkarat.

Kita hanya melewatkan pembicaraan-pembicaraan sporadis. Dan karena itu aku tidak begitu tahu mengenai sepak terjangmu. Meski begitu, aku dapat mengerti angan-angan maupun obsesimu. Aku juga dapat dengan mudah mengenalimu sebagai lelaki hangat yang aktif dengan otak brilian yang kapanpun selalu mengeluarkan ide-ide cemerlang. Dari itu semua aku menyimpulkan kelak kau tidak akan menjadi pemuda yang biasa-biasa saja, bahkan dengan mudah dicintai.

Kau kerap membicarakan banyaknya kemungkinan dan banyaknya keinginan dalam rencana hidupmu.

Kapan, dimana, dan apa yang hendak kau lakukan.

Sesungguhnya aku ingin mengejarmu. Mengejarmu yang sudah berlari kedepan menyongsong impianmu yang dengan mudah bisa kau raih. Aku ingin mengejarmu agar bisa berlari bersamamu. Aku ingin mengejarmu agar sosokku dalam hatimu tidak tergulung dan terganti sempurna.

Aku sering mengikutimu. Ikut mengadah dan mengamat-amati. Karena mungkin saja aku bisa mendapat imaji yang sama denganmu. Dan dengan begitu aku dapat bersama denganmu, mengiringi langkahmu dan ikut merasakan kebahagiaanmu.

Aku takut. Takut ketika kamu melangkahkan kaki dan meninggalkanku sendiri. Kadang aku bertanya padamu dalam hati, "Dimana aku? Dimana aku dalam rencana-rencanamu? Adakah aku di dalamnya?". Aku memang egois, dan keegoisan itu sering kali menari-menari di kepalaku. Seharusnya aku tahu, aku tidak sepenting itu buatmu.

Meskipun begitu, aku selalu mengatakan yang sebaliknya. Mengatakan apapun yang kamu katakan sangat menggugahku dan membuatku makin termotivasi untuk mengalahkanmu. Aku memang termotivasi, namun aku sadar kau terpaut jauh denganku. Kenyataan menamparku dengan keras membuat tameng-tameng yang kupersiapkan telah hancur berkeping-keping.

Jadi disinilah aku, sendirian di ruangan temaram, sibuk menghitung detik-detik waktu yang telah kuhabiskan bersamamu seiring sekelebatan ingatan tentang kita yang dulu mengiringi lelapku.

No comments:

Post a Comment