Wednesday, September 20, 2017

curhat dong mak

Mungkin namanya manusia ya, gampang banget dihasut dan kehasut. Lo gak tahu titik masalah, tapi hanya denger dari satu sumber yang bahkan juga gak tahu kebenerannya tapi lo malah percaya dan ikut terbawa emosi.

Mungkin, kalau teman lo adalah orang yang benar tapi garis 'saudara' mempengaruhi lo, bukankah pada akhirnya lo lebih percaya dengan yang 'terdekat' dengan lo? Sedih sih. Berasa difitnah, tapi emang iya sih.

Orang lain ngomong ini-itu mengenai lo, seolah-olah tahu apa yang lo rasakan dan apa yang sebenarnya terjadi. Kalau benar saat menebak, bukan berarti langsung mengerti.

Kayaknya sih, salah gue juga yang sepertinya terlalu 'sabar' dan 'nyantai'. Gue berpikir, 'Alah, itu gak bener. Diemin aja lah, toh yang tahu gue doang', sampai akhirnya menimbulkan persepsi lain bagi orang-orang. Gue sih ngerasa, gak penting aja gitu untuk mengumbar apa yang lo rasa dan apa yang lo pikirkan terhadap sesuatu, terutama ke dunia sosial yang dipenuhi banyak orang, yang sebenarnya gak sekalipun tertarik dan peduli, mostly.

Orang lain gak perlu tahu; apa sih yang gue kerjakan sekarang, apa yang gue sukai dan gak gue sukai karena pada akhirnya setiap orang hanya peduli pada dirinya sendiri. Orang hanya berpikir, 'Ini gue, gue gini gitu blablablablablah' dan selain dia, semuanya salah.

Mungkin gue terlalu kritis atau 'sok tahu' dalam hal dunia dan cara menghadapinya. Tapi coba, gimana gue enggak berpikir beda, kalau gue bisa membaca wajah dan tahu apa yang orang lain sebenarnya rasakan. Gue terkesan mendzalimi dan gue minta maaf untuk itu. Hanya aja gue jadi muak saat tahu yang sebenarnya, sedekat apapun itu.

Gue diam, dan berusaha biasa aja. Tapi ekspresi dan bagaimana gue bersikap mengikuti lawan bicara. Kalau begitu, bagaimana caranya agar gue merasa 'biasa'?