Dan aku menjadi gamang. Seberapapun tinggi menarik sudut bibir, tetap saja sekelebat risau menghampiri. Rasanya tubuhku bergetar karena euphoria, tapi terbelenggu sesaat ingat dengan apa aku dihadapkan.
Kamu mungkin mengajariku cara bertahan, tapi kamu juga lupa dengan apa aku harus melepas. Kalau sampai nanti aku masih disini, apa kamu akan tetap membuang muka?
Iya, mungkin.
Tuesday, June 28, 2016
Thursday, June 9, 2016
Kamu tau, bukan mauku untuk ada disini.
Ketika ditanya kenapa aku masih ada di tempat yang sama, aku jujur gak tahu
harus menjawab apa. karena aku asli gak tahu dan gak mengerti. Karena memang,
aku gak tahu tempat lain untuk kembali.
Dan kurasa aku gak seberani yang
kuharapkan. Bahkan aku sedikit takut kalau-kalau aku menyandang titel pengecut
di belakang namaku.
Aku capek dan aku kesal mendengar suara
teriakan-teriakan di bawah. Memangnya mereka gak sadar, bukan hanya mereka
doang yang mendengarkan? Apalagi ketika suara pecahan piring terdengar. Mereka
gak malu pertengkaran mereka memiliki banyak saksi?
Aku kesal ketika luapan kekesalan itu
dilimpahkan ke orang lain, terlebih karena amarah masih menutupi logika,
membuat mereka mencari-cari kesalahan orang lain.
Aku tahu sih, sudah wajar bagi manusia
untuk berasumsi. Bahkan membuat asumsi itu sendiri. Tapi sebagai orang yang
tingkatannya rendah dan selama ini hanya bisa mendengarkan, mau berkata apa?
Kamu tau apa yang dia bilang?
“Kamu kok omongannya jadi berani gini.”
Aku merasa takut. Lebih takut ketika
nantinya harus kehilangan kendali atas diriku. Aku juga takut dengan apa yang
akan terjadi apabila aku mulai lepas kontrol. Tubuh boleh bergetar, lidah boleh
kelu. Aku memang lemah dan kekuatan bukan kelebihanku. Tapi yang membuatku
menang adalah pemikiranku. Seberapapun dangkal dan liarnya, tetap saja otakku
sibuk berjalan dan kadang mengambil kendali lebih untuk diriku.
Tapi ... aku juga merasa takut karena
kekalutanku. Siapa yang bisa berpikir jernih ketika marah? Siapa yang bisa
penuh rencana ketika merasa takut? Merasa takut, sudah umum untuk bertahan dan berusaha
menjaga diri. Tapi itu membuatku lupa, aku siapa dan ada dimana. Rasanya semua
seolah menghilang, dan aku mati kutu untuk mencari tempat berlindung lainnya.
Bahkan, memori menyenangkan dan pedoman hidupku pun jadi terlupakan. Kalau
ingin mengatakan bahwa ini hanya persoalan sepele, kenapa semua ini terasa
begitu besar untukku?
Saat ini yang kubutuhkan hanya pelukan.
Atau gak, sekedar seseorang yang menemaniku, untuk meyakinkanku kalau aku gak
sendiri dalam menghadapi ini. Karena, aku merasa bahwa aku benar-benar
sendirian sekarang.
Subscribe to:
Posts (Atom)