Monday, February 15, 2016



Gue bete sama orang yang ngomong ‘apaan sih, Dem’ setelah gue mengucapkan atau mengutarakan sesuatu. 

Betenya gak karuan. Dan selalu ngebuat gue terasing, ngerasa ‘gue mah apa atuh ketimbang lo pada’. Rasanya kayak langsung ada garis besar, kalo mereka itu normal dan gue aneh. Padahal gak cuman jempol kaki dan tulisan tangan, pikiran manusia pun juga beda-beda.

Kayaknya untuk bicara atau berargumen yang menggunakan perspektif sendiri masih dianggap tabu. Rasanya orang-orang selalu berpegang teguh ke hal logis yang udah ada dan yang aman aja. Nyeleneh sedikit, udah pasti dapet sindiran mata.

Kalau punya cara pandang beda emang menyusahkan. Kalau gak di cap aneh, bego, ya pada sirik. Siriknya juga kalau ternyata pemikiran ngawur bisa nyenggol ke realita dan bisa diterima otak-otak orang normal.  Berusaha menyeimbangkan dengan pemikiran yang lain, udah pasti ngerasa greget sendiri, rasanya ada perasaan ‘oi, lo gak bosen make cara mainstream macam gitu?’. Tapi kalau tetep keukeuh make cara sendiri ya seperti yang udah dijabarin di atas, dianggap bego dan aneh. Komplit.

Padahal, dalam omongan/gambaran/ide udah masukin hal-hal yang mudah dipahami dan juga masukin hints. Kalau memang pada akhirnya menghasilkan makna ganda atau bahkan sampai makna triple dan orang-orang masih clueless, jadi si aneh dan bego itu yang salah?
Karena gue terlanjur sakit hati, ya udah lah lanjut. Ngapain juga gue kudu berusaha jadi orang biasa. Mulai sekarang, gue mau menerapkan–“Kalo lo gak ngerti, berarti bukan gue yang aneh. Tapi karena gue yang pinter, makanya lo gak bisa ngikutin gue”–di otak. 

Rebelution gue masih berlanjut!

Saturday, February 13, 2016

Nama itu memenuhi hati dan pikiranku.

Personanya sudah terlalu melekat dalam benakku, sampai aku tak dapat mengenali siapa yang berada di hadapanku. Senyuman lebarnya hanyalah kedok dari kegelapannya—Kegelapan yang menyelimuti hati besarnya yang rapuh, terbentengi oleh angan yang berdiri menjulang tinggi.

Kesendirian. Kesepian. Jelas itu yang ia rasakan.

Aku pernah berada di fase yang sama. Tidak mampu berkutik, seolah terperangkap bayang-bayang pekat bernama memori. Hanya mampu mengeruk sakit hati, tanpa memberikan sedikit serpihan dari yang mendatang. Gelap, gelap, gelap dan hanya sendiri. Sakit, sakit, sakit, tapi tak ada perban untuk membungkusnya. Hanya mengalaminya sendiri, karena semua itu hanya berada di kepalaku. 

Bagai cecunguk merindu kasih sayang yang sia-sia berlindung di balik dinding kamar dan kehangatan selimut usang. Sia-sia karena kehangatan itu semu. Tak dapat menghangatkan apa yang terpendam, bahkan tak dapat menggenggam apa yang rapuh.

Seperti mengenal tak pernah memandang.
Seperti merindu tapi tak mengetahui siapa.

Hal itu mempertanyakanku akan cinta yang kupunya. Jika sesulit ini terasa mudah, mengapa untuk mencicip akhir terasa menyakitkan?

Berkali-kali diterpa asam rindu dan sekelebat pertanyaan;
Kamu siapa?
Siapa kamu?

Ah, tak perlulah aku menangisi kekosongan. Toh kekosongan itu sendiri sedari awal bisu dan buta. Aku tahu, senyaman apapun aku berada, rasa sakit akan menghampiri. Seolah belahan hati, ada dan menanti.

Mungkin untuk bersama tidak perlu menggenggam tangan. Dan untuk mencintai sedalam ini tidak perlu mengutarakan kata. Cukup aku ada untuk dia walau terpisah berjengkal-jengkal ingatan.