Thursday, June 9, 2016



Kamu tau, bukan mauku untuk ada disini. Ketika ditanya kenapa aku masih ada di tempat yang sama, aku jujur gak tahu harus menjawab apa. karena aku asli gak tahu dan gak mengerti. Karena memang, aku gak tahu tempat lain untuk kembali.

Dan kurasa aku gak seberani yang kuharapkan. Bahkan aku sedikit takut kalau-kalau aku menyandang titel pengecut di belakang namaku.

Aku capek dan aku kesal mendengar suara teriakan-teriakan di bawah. Memangnya mereka gak sadar, bukan hanya mereka doang yang mendengarkan? Apalagi ketika suara pecahan piring terdengar. Mereka gak malu pertengkaran mereka memiliki banyak saksi? 

Aku kesal ketika luapan kekesalan itu dilimpahkan ke orang lain, terlebih karena amarah masih menutupi logika, membuat mereka mencari-cari kesalahan orang lain. 

Aku tahu sih, sudah wajar bagi manusia untuk berasumsi. Bahkan membuat asumsi itu sendiri. Tapi sebagai orang yang tingkatannya rendah dan selama ini hanya bisa mendengarkan, mau berkata apa? 

Kamu tau apa yang dia bilang? 

“Kamu kok omongannya jadi berani gini.”

Aku merasa takut. Lebih takut ketika nantinya harus kehilangan kendali atas diriku. Aku juga takut dengan apa yang akan terjadi apabila aku mulai lepas kontrol. Tubuh boleh bergetar, lidah boleh kelu. Aku memang lemah dan kekuatan bukan kelebihanku. Tapi yang membuatku menang adalah pemikiranku. Seberapapun dangkal dan liarnya, tetap saja otakku sibuk berjalan dan kadang mengambil kendali lebih untuk diriku.

Tapi ... aku juga merasa takut karena kekalutanku. Siapa yang bisa berpikir jernih ketika marah? Siapa yang bisa penuh rencana ketika merasa takut? Merasa takut, sudah umum untuk bertahan dan berusaha menjaga diri. Tapi itu membuatku lupa, aku siapa dan ada dimana. Rasanya semua seolah menghilang, dan aku mati kutu untuk mencari tempat berlindung lainnya. Bahkan, memori menyenangkan dan pedoman hidupku pun jadi terlupakan. Kalau ingin mengatakan bahwa ini hanya persoalan sepele, kenapa semua ini terasa begitu besar untukku?

Saat ini yang kubutuhkan hanya pelukan. Atau gak, sekedar seseorang yang menemaniku, untuk meyakinkanku kalau aku gak sendiri dalam menghadapi ini. Karena, aku merasa bahwa aku benar-benar sendirian sekarang.

No comments:

Post a Comment