Personanya sudah terlalu melekat dalam
benakku, sampai aku tak dapat mengenali siapa yang berada di hadapanku.
Senyuman lebarnya hanyalah kedok dari kegelapannya—Kegelapan yang menyelimuti
hati besarnya yang rapuh, terbentengi oleh angan yang berdiri menjulang tinggi.
Kesendirian. Kesepian. Jelas itu yang ia rasakan.
Kesendirian. Kesepian. Jelas itu yang ia rasakan.
Aku pernah berada di fase yang sama. Tidak
mampu berkutik, seolah terperangkap bayang-bayang pekat bernama memori. Hanya
mampu mengeruk sakit hati, tanpa memberikan sedikit serpihan dari yang
mendatang. Gelap, gelap, gelap dan hanya sendiri. Sakit, sakit, sakit, tapi tak
ada perban untuk membungkusnya. Hanya mengalaminya sendiri, karena semua itu
hanya berada di kepalaku.
Bagai cecunguk merindu kasih sayang yang
sia-sia berlindung di balik dinding kamar dan kehangatan selimut usang. Sia-sia
karena kehangatan itu semu. Tak dapat menghangatkan apa yang terpendam, bahkan
tak dapat menggenggam apa yang rapuh.
Seperti mengenal tak pernah memandang.
Seperti merindu tapi tak mengetahui siapa.
Hal itu mempertanyakanku akan cinta yang
kupunya. Jika sesulit ini terasa mudah, mengapa untuk mencicip akhir terasa
menyakitkan?
Berkali-kali diterpa asam rindu dan
sekelebat pertanyaan;
Kamu siapa?
Siapa kamu?
Ah, tak perlulah aku menangisi kekosongan.
Toh kekosongan itu sendiri sedari awal bisu dan buta. Aku tahu, senyaman apapun
aku berada, rasa sakit akan menghampiri. Seolah belahan hati, ada dan menanti.
Mungkin untuk bersama tidak perlu
menggenggam tangan. Dan untuk mencintai sedalam ini tidak perlu mengutarakan
kata. Cukup aku ada untuk dia walau terpisah berjengkal-jengkal ingatan.
No comments:
Post a Comment